Teknik Mengatasi Penundaan dan Mewujudkan Perubahan Apapun

Masalah menunda-nunda pekerjaan adalah masalah yang hampir dihadapi oleh setiap orang. Hal ini juga yang menjadi penyebab utama mengapa goal yang kita susun di awal tahun, tiba-tiba terbengkalai di tengah perjalanan. Akibatnya, pikiran kita dihantui kesalahan karena tidak berprogres sebagaimana yang kita harapkan. Bagai lingkaran setan, beban stress ini menjadikan kita semakin ‘malas’ untuk take action dan semakin menunda-nunda lagi.

Contoh kasusnya, pernah kita memiliki niat untuk mengikuti kursus online untuk meningkatkan kemampuan dan kapasitas kita, namun bagai lagu lama, semua terhenti di tengah jalan dan tidak mencapai garis finis.

Begitu juga dengan goal besar yang ingin kita capai, awal-awalnya saja kita semangat untuk menjalani prosesnya, namun semakin hari, energi itu semakin luntur dan tak berbekas, padahal goal belum tercapai.

Dalam dunia psikologi, salah satu penyebab penundaan adalah kesalahan kita memaknai waktu yang kita miliki. Kita menganggap bahwa masih memiliki banyak waktu dan dapat mengerjakannya besok. Padahal jika kita menyelesaikannya sekarang, waktu esok (jikalah masih ada) yang kita miliki dapat digunakan untuk menyelesaikan perkerjaan lain atau melakukan progress atas pekerjaan sebelumnya yang sudah selesai.

Untuk mengatasinya, Empat teknik praktis ini dapat coba kita lakukan.

1. Tentukan aksi kecil

Jika kita merasa berat memulai sesuatu pekerjaan, artinya mental kita memaknainya sebagai pekerjaan besar yang memerlukan usaha banyak. Artinya mental kita belum terlatih menanggung beban berat tersebut. Cara yang dapat kita gunakan adalah melakukan Chunk it down atau memecah pekerjaan tersebut menjadi aksi-aksi kecil.

Rencana aksi kecil membuat mental kita lebih siap dan lebih mudah untuk melakukannya. Biasanya, saat kita sudah mulai melakukan, kita mendapatkan momentum untuk terus menambah beban pekerjaan yang dapat kita selesaikan.

Daripada “Saya akan menulis buku yang nantinya akan berimpact positif ke banyak orang” lebih baik diganti dengan “Saya akan menulis selama 15 menit saja!”

Kedepannya, mental kita akan lebih terlatih untuk menambah beban pekerjaan yang dapat kita rencanakan.

2. Tentukan waktu pelaksanaannya

Mental kita bingung dan menjadikan kita menunda kapan harus mengerjakan saat kita belum menentukan kapan waktu pasti akan melakukannya.

Misalnya kita berkomitmen untuk menulis sebuah buku, atau menulis email penawaran bisnis namun kita belum menentukan waktu spesifik kapan akan mengerjakannya.

Trik yang dapat kita lakukan adalah menentukan waktu kapan tepatnya kita akan melakukanya.

Misalnya:

“Setiap alarm pukul 6 pagi berbunyi, saya akan meluangkan waktu 15 menit untuk menulis email penawaran.”

“Setiap pukul 9 pagi saya akan membuat video tutorial penjualan untuk tim bisnis saya.”

“Setiap jam 9 malam sebelum tidur, saya akan membaca 10 halaman buku bermutu untuk menambah kapasitas diri saya.”

3. Mulai dengan 5 detik

Jika kita sudah menentukan waktu spesifik. Tambahkan dengan aturan “5 Detik” setiap kali kita malas untuk memulai di waktu yang telah ditentukan.

Caranya begini: Setelah komitmet aksi apa dan kapan waktu spesifik kita melakukannya, maka saat waktu yang telah ditentukan itu muncul, hitung “5.. 4… 3… 2… 1… Go” dan segera mulai aksi yang sudah kita rencanakan.

Apapun kondisi mental kita. Jangan sampai rencana dan aksi yang telah kita rencanakan disabotase oleh pikiran-pikiran negatif seperti:

“Nanti saja dulu setelah nonton video youtube ini.”

“Scroll medsos sebentar saja tidak apa-apa.”

“Tanggung nih masih pewe.”

Dalam bukunya 5 Second Rule, Mel Robbins menjelaskan bahwa otak manusia tidak dedesain untuk mengerjakan hal-hal yang sulit, menakutkan, dan tidak enak. Itu adalah otak primitive yang berfungsi melindungi kita untuk tetap hidup.

Pikiran bawah sadar ini jika tidak dikendalikan dengan baik dapat menghambat pencapaian kita. Maka solusi yang ditawarkan adalah gunakan aturan 5 detik untuk menginstrupsi ‘habit menunda’ kita dan mengubah ‘apa yang kita ketahui baik untuk dikerjakan’ menjadi ‘benar-benar kita kerjakan’. Idea to Act!

Mel Robbins memberikan rumus sederhana bahwa mengubah ide menjadi suatu tindakan hanya memerlukan 5 detik saja. Setiap terpikir ingin melakukan sesuatu, hitung mundur 5.. 4… 3… 2… 1… dan Start untuk memulai langsung tanpa berpikir panjang sebelum otak primitif kita mensabotase.

Begitu juga dengan rencana tindakan di waktu spesifik yang telah kita tentukan.

4. Internalisasi pemahaman menjadi tindakan menggunakan teknik Mind to Muscle

Saya mengibaratkan, teknik mind to muscle ini dapat kita gunakan sebagai stok bahan bakar agar komitmen yang kita putuskan, terus mendapatkan dorongan agar benar-benar terwujud dalam suatu tindakan.

Konsep mind to muscle ini dikemukakan oleh Michael Hall seorang ahli Neuro-Semantics. Michael Hall mengungkapkan salah satu cara agar kita benar-benar melakukan apa yang kita pahami adalah dengan menerapkan mind to muscle. Secara sederhana, kita dituntut untuk membuat mantra penggerak atas suatu pemahaman yang kita yakini perlu untuk dilakukan.

Misalnya, kita tahu bahwa olahraga secara rutin di pagi hari adalah baik untuk kesehatan tubuh kita. Pemahaman ini kemudian kita ubah menjadi kalimat aktif melibatkan diri sendiri, misalnya,

“Saya yakin bahwa lari pagi secara rutin adalah baik untuk diri.”

Keyakinan yang sudah melibatkan diri ini kemudian kita ubah menjadi sebuah keputusan,

“Saya memutuskan mulai besok akan lari pagi setiap pagi karena baik untuk kesehatan saya.”

Saat sudah mulai memutuskan rencana tindakan secara konkrit tersebut, perhatikan respon emosi kita. Respon positif dan negatif biasanya akan muncul, itu tidak masalah, yang penting pemahaman yang sudah anda ketahui, kini sudah mulai menjelma mempengaruh tubuh anda melalui emosi yang muncul.

Kini yang perlu dilakukan adalah putuskan tindakan yang akan dilakukan sesuai dengan aksi kecil dan komitmen waktu yang sudah ditentukan seperti di poin 1 dan 2 di atas.

“Setiap pagi pukul 6 saya akan lari pagi karena saya paham dan yakin bahwa hal itu baik untuk kesehatan saya.”

Ucapkan terus mantra ini di benak kita agar muscle kita ‘teraliri listrik’ agar lebih mudah bergerak sesuai rencana menggunakan pemicu “5.. 4.. 3… 2… 1… Go!”

Semua teknik ini adalah sebuah skill yang perlu dilatih terus menerus agar kita semakin mahir. Layaknya bersepeda, cara terbaik untuk menguasainya adalah mempraktikkan secara rutin. Tidak harus ideal di awal percobaan, namun jika konsisten menjalankan, kita akan punya jurus mengatasi penundaan demi mewujudkan goal/perubahan apapun yang kita inginkan.

Selama mencoba.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CUSTOMER SERVICE

STAY CONNECTED

ABOUT

PinterIM adalah Blog tentang Bisnis, Manajemen, dan Solopreneuer

Copyright 2019 PinterIM.com