Cognitive Defusion – Berjarak dengan Pikiran (Teknik #1 ACT)

1 Shares

Pernahkah bisikan pikiran yang bersuara ‘saya pasti gagal’ atau ‘saya tidak cukup baik’ tiba-tiba muncul dan menyabotase seluruh hari Anda? Kita tidak sadar itu munculnya darimana, namun yang kita tahu efek dari ‘bisikan itu’ melemahkan dan menghisap energi kita.

Anda tidak sendirian. Kita semua sering ‘terjebak’ dalam pikiran sendiri. Tapi, bagaimana jika ada cara untuk berhenti berdebat dengannya, dan justru mengambil kembali kendali hidup kita?

Saat kita merasa tidak semangat, tidak berdaya, atau merasakan perasaan negatif lainnya, seringkali hal itu diawali oleh pikiran negatif di kepala. Fenomena ini bisa kita sebut sebagai “terjebak pikiran sendiri”. Ketika saya tidak berani melakukan penawaran pada calon klien, itu terjadi karena saya sedang ‘dikendalikan’ oleh pikiran “saya pasti ditolak”. Padahal, sebelum benar-benar dilakukan, semua itu hanyalah “pikiran”.

Pintu pertama dalam ‘permainan psikologis’ ini adalah dengan mengenali pikiran kita. Wawasan ini ditemukan di beragam ajaran kuno: mengenali bahwa pikiran bukanlah jati diri kita, mengamati “monyet pikiran” yang terus melompat-lompat, atau sekadar mengambil satu langkah mundur untuk menciptakan jarak pengamatan.

Masalah psikis seringkali muncul karena kita tidak sadar terbawa arus pikiran sendiri. Kita tidak menyadari bahwa kita dan pikiran kita bukanlah entitas yang sama. Pikiran hanyalah peristiwa mental yang terbentuk berdasarkan pengalaman kita di masa lalu.

Penemuan para ilmuwan psikologi dalam Relational Frame Theory (RFT) menyatakan bahwa secara naluriah, pikiran kita akan menghubungkan sebuah kejadian dengan sesuatu yang pernah kita alami. Jika simpul pengalaman itu menghasilkan pikiran yang memberdayakan, ia bisa menjadi bahan bakar. Namun sebaliknya, jika simpul itu tidak memberdayakan, ia akan berefek pada lemahnya mental kita. Inilah yang bisa menjadi akar dari kecemasan yang menetap, rasa tidak percaya diri, atau bahkan respons yang mirip trauma.

Memahami Teknik Defusi dan Penerapannya

Alih-alih terbawa oleh pikiran yang tidak memberdayakan, teknik ini mengajak kita mengambil jarak. Ibaratnya, kita seperti sedang memakai kacamata bertuliskan “SAYA PEMALU”. Jika kita tidak menyadarinya, kacamata tersebut terasa seperti identitas yang tidak terpisahkan dari diri kita, padahal ‘kacamata’ itu hanyalah sebuah label dari pikiran.

Jika kita ingin terlepas dari kacamata itu, sadari, pegang kacamata itu, dan tanggalkan sejenak. Lihatlah dunia dengan lebih jernih dan sadari bahwa diri kita yang sejati bukanlah atribut pikiran yang sedang kita kenakan.

Mengapa Melawan Pikiran Justru Bumerang?

Para ahli psikologi telah membuktikan bahwa pikiran hanyalah ‘atribut’ atau gambaran peristiwa mental, dan bukan diri kita yang sejati. Memahami batasan ini adalah langkah awal untuk berdamai dengan pikiran, alih-alih terus-menerus berdebat dan melawannya. Sebagaimana dalam analogi “jangan pikirkan gajah berwarna merah jambu”, pikiran kita justru akan semakin memperkuat gambaran tersebut.

Fase awal inilah fase krusial yang menyebabkan banyak metode self-help atau teknik psikologi tertentu terasa gagal karena kita dipaksa untuk tidak menerima, bertarung, dan berdebat pada sesuatu yang memang benar ada di dalam pikiran kita.

Latihan 1 Menit: Cara Mengambil Jarak dari Pikiran Anda

Daripada melawan pikiran “saya pemalu”, lebih baik kita menyadarinya dan berkata pada diri sendiri, “Saya sedang memiliki pemikiran bahwa saya pemalu.”. Daripada berdebat dengan pikiran “saya tidak mampu melakukannya”, lebih baik kita menyadari dan berkata bahwa “Saya sedang memiliki pikiran bahwa saya tidak mampu melakukannya”.

Fungsi dari teknik sederhana ini adalah untuk mengambil kembali kendali atas perhatian dan tindakan kita, menempatkan pikiran pada tempatnya sebagai pengamat, alih-alih membiarkannya menjadi pilot yang mengendalikan hidup kita. Ini adalah langkah awal dari rangkaian teknik Acceptance and Commitment Therapy (ACT) yang akan kita bahas di artikel selanjutnya.

Teknik sederhana ini adalah langkah pertama untuk menjadi pengamat pikiran, bukan menjadi budaknya. Nah, apa ‘kacamata pikiran’ yang paling sering Anda pakai tanpa sadar? Coba bagikan di kolom komentar!

Disclaimer: Konten dalam artikel ini dibuat untuk tujuan edukasi dan berbagi wawasan, berdasarkan perjalanan belajar penulis. Informasi yang disajikan tidak dimaksudkan sebagai pengganti diagnosis, konsultasi, atau penanganan medis dan psikologis dari tenaga profesional terkualifikasi. Jika Anda sedang menghadapi tantangan kesehatan mental, jangan ragu untuk mencari bantuan dari psikolog, konselor, atau psikiater.

1 Shares

Leave a Comment