3 Pemahaman Dasar yang Harus Dimiliki oleh Setiap Insan Bisnis (Owner maupun Karyawan Profesional)

Buat saya pribadi, bisnis selalu menarik. Tidak melulu tentang profit (meski itu salah satu yang menarik juga sih), tapi juga challenge yang ditawarkan saat mengelola sebuah bisnis. Ada beragam variable yang mempengaruhi arah geraknya sebuah bisnis. Dari bisnis juga, saya seperti merasa terus haus untuk belajar segala aspeknya, mulai dari mindset, mengelola manusia, mengelola sumber daya yang dimiliki, hingga mengelola waktu yang kita ketahui bersama adalah sumber daya yang paling mahal harganya dan tidak dijual ditoko manapun.

Tapi sebelum menginjak lebih jauh hal yang sangat teknis, ada hal filosofis yang pelu kita pahami dan tanamkan dalam diri kita sejak awal. Dan dari hal ini pun kita bisa mengambil pelajaran yang bisa diterapkan pada kehidupan pribadi kita.

Setidaknya ada tiga point penting tentang pondasi sebuah bisnis yang saya sarikan dari episode pertama (dari 99 series) Sekolah Bisnis Dua Kodi Kartika yang diasuh oleh Kang Rendy.

  1. Terus bertumbuh

Sejak awal harus disadari bahwa sebuah bisnis harus terus tumbuh. Bisnis tumbuh artinya semua elemen utama dalam bisnis tersebut harus memiliki progress yang terus naik dari hari ke hari. Ini juga yang membedakan berbisnis dan berdagang.

Mengapa usaha warung di sebelah rumah kita mulai dari jaman kita SD hingga saat kita kuliah masih begitu terus, ya karena warung tersebut hanya sedang berdagang.

Beda dengan usaha teman baik saya yang dirintis sekitar tahun 2009 yang dulunya hanya menerima order bikin tenda payung 10 unit dengan nilai transaksi hanya 5 juta rupiah, kini di tahun 2016 kemarin sudah membukukan omzet hingga 5 Milyar rupiah! Sebab kawan saya itu sedang berbisnis, ada pertumbuhan yang saya saksikan dari usahanya. Jika dulu karyawan hanya beberapa orang, sekarang sudah bisa memperkerjakan lebih banyak orang. Jika dulu hanya butuh ruang workshop 5 x 5 meter saja, kini area workshopnya sudah hampir ratusan meter persegi. Jika dulu order hanya sekitaran tempat kerjanya saja, kini sudah menjangkau dari Natuna hingga Papua!

Itu yang namanya bisnis, dan itu yang membedakan dengan berdagang, ada pertumbuhan yang dikelola dan diusahakan secara terus menerus.

Pertumbuhan ini bukan hanya dari sisi organisasi bisnisnya saja, namun sumber daya yang ada di dalamnya yang ikut mengelola sehari-hari harus juga ikut bertumbuh dan diusahakan pertumbuhannya oleh sang pemilik bisnis. Dan dalam contoh kasus bisnis teman saya itu, kemarin kami baru bertemu dan dia bercerita sedang menguliahkan salah satu karyawannya untuk mengambil S1 jurusan Teknis Sipil dalam rangka membantu pertumbuhan bisnisnya yang sangat perlu keahlian tersebut.

Sebab pertumbuhan bisnis diawali dulu dengen pertumbuhan personilnya terutama dari segi kualitas.

Skemanya kira-kira seperti ini

Kualitas SDM tumbuh >> Produk bertumbuh semakin baik >> Sales bertumbuh >> Omzet naik >> Profit naik >> Organisasi bisnis bertumbuh

Skema itu harus disadari baik oleh pemilik bisnis maupun oleh setiap personil didalamnya.

Pelajaran yang dapat kita ambil: sebagai pebisnis kita harus mengupayakan pertumbuhan tersebut dengan diawali meningkatkan kualitas personil dalam bisnis kita agar organisasi bisnisnya juga ikut bertumbuh.

Bagi para profesional yang menjadi gerbong sumber daya suatu organisasi, harus juga disadari bahwa jika ingin gaji naik, mereka harus meningkatkan (baca: menumbuhkan) kontribusinya sebagai bagian dari keseluruhan sistem perusahaan dengan cara memberikan kinerja yang optimal. Jika pada muaranya nanti perusahaan bertumbuh, maka perusahaan akan memiliki kemampuan untuk meningkatkan gaji para karyawannya sehingga perputaran itu akan berjalan terus. Perusahaan tumbuh, gaji karyawan tumbuh (baca: naik).

Bagaimana jika kita sebagai karyawan sudah berkontribusi maksimal dan perusahaan juga terus bertumbuh tapi tidak pernah ada kenaikan penghasilan yang kita terima? Maka itu sinyal harus mencari tempat baru yang lebih bisa menghargai pertumbuhan kita.

  1. Menciptakan value

Ada pertanyaan menarik yang dilontarkan Kang Rendy saat membahas hal ini: Mengapa orang lebih memilih membeli beras di swalayan daripada langsung ke sawah padahal harganya lebih murah di sawah?

Jawaban yang terlontar antara lain karena lebih higienis, lebih simpel karena bisa langsung dimasak, lebih nyaman ke swalayan daripada harus ke sawah, dan karena lebih menghemat waktu karena kalau ke sawah hanya akan dapat beras saja, tapi kalau pergi ke swalayan sekalian bisa dapat kecapnya, bumbunya, minyaknya, gulanya, dan keperluan lain sekali berangkat.

Ternyata, orang membeli produk kita bukan melulu karena produknya, tapi karena value yang melekat pada produk itu yang seringkali bersifat “ghoib” (istilah yang disebut Kang Rendy). Value-value itu antara lain: kemudahan, prestis, kepraktisan, gengsi, dan lain sebagainya.

Jadi bisnis akan terus tumbuh saat kita sebagai personil di dalamnya, baik sebagai pemilik bisnis maupun pekerjanya sibuk terus menciptakan value-value untuk diberikan pada pelanggan. Value ini juga yang akan membedakan kita dengan competitor saat pelanggan sudah bisa melakukan “Cek Toko Sebelah”.

Value ini juga yang menjadikan alasan mengapa calon pembeli harus membeli di tempat kita dan tidak di tempat orang lain.

  1. Mantap dalam Mengambil Keputusan

Saya sendiri merasakan betul bedanya keputusan yang diambil setengah-setengah dengan keputusan yang diambil dengan BULAT! Saya teringat perkataan guru saya Pak Tung Desem Waringin saat mengikuti seminar Business Revolution beberapa tahun lalu bahwa keputusan itu harus diambil sampai benar-benar PUTUS… TUS… TUS… dan nggak bisa disambung lagi. Karena namanya adalah keputusan bukan kesambungan. Hehe…

Keputusan yang diambil setengah-setengan tidak akan memunculkan energi maksimal saat mengeksekusinya. Sebaliknya, keputusan yang diambil bulat-bulat akan memproduksi energi besar yang bisa dijadikan penggerak pelaksana keputusan tersebut. Susah ataupun senang hasil keputusan itu akan dinikmati prosesnya hingga mencapai tujuan.

Dalam bisnis dan karirpun seperti itu, kita harus berani mengambil keputusan sampai benar-benar bulat dan siap menikmati hasilnya jika sesuai prediksi, dan siap berjuang lagi jika menemui tantangan.

Hal ini berlaku dalam hal pengambilan keputusan apapun: keputusan untuk menerima investor baru, keputusan memproduksi jenis layanan baru, keputusan menghentikan karyawan, ataupun keputusan apakah kita yang berprofesi sebagai karyawan harus tetap di tempat yang sekarang atau harus mencari tempat baru agar dapat terus bertumbuh dan menciptakan value.

Jadi, apa keputusan Anda hari ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Free Ebook

25 Jurus Paten Main Instagram!

Terapkan langkah-langkah praktis ini untuk memaksimalkan Instagram Marketingmu. Terdiri dari 25 Langkah Paten yang dilakukan Brand-Brand besar untuk mengibarkan promosi mereka di Instagram. jangan sampai Kompetitormu melakukan, kamunya malah bengong!

Podcast

Video

Manifesto

PinterIM.com adalah blog yang menyajikan informasi, tips dan trik menjadi SOLOPRENEUR!

Temukan Potensi dan Minatmu, saya bantu menunjukkan jalan bagaimana Anda bisa mendapatkan kebebasan sekaligus menyebarkan nilai positif dari aktifitas Anda!

Mau dapat Income? Apalagi yang tidak akan Anda dapatkan jika Anda sudah bahagia dan aktif menyebarkan nilai positif? Income akan mengikuti sendiri.

TERMS OF USE

PRIVACY POLICY